Kamis, 15 Mei 2014

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU TERNAK POTONG DAN KERJA MENGENAI PEMELIHARAAN


LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU TERNAK POTONG DAN KERJA




PEMELIHARAAN



NAMA                             : RAHMA NINGSI
NIM                                 : I 111 12 295
KELOMPOK                  : VIII (DELAPAN)
ASISTEN                         : ABDI ERIANSYAH



























LABORATORIUM TERNAK POTONG DAN KERJA
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
PENDAHULUAN



A.      Latar Belakang
Kebutuhan akan produk peternakan sekarang ini sangat tinggi. Masyarakat Indonesia sudah mulai sadar akan pentingnya kebutuhan protein hewani dalam  mencukupi kebutuhan nutrisinya. Produk peternakan adalah produk yang sangat  primer.
Sebagai contoh yaitu daging, telur, susu merupakan produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Untuk saat ini banyak kalangan yang beranggapan bahwa dunia peternakan adalah dunia yang kurang mempunyai prospek ke depan. Apabila kita kaji dan kita perdalam tentang dunia peternakan kita akan memperoleh makna yang sangat berharga. Untuk itu saat ini saja orang terus memerlukan  produk  dari sektor peternakan walaupun telah kita ketahui bersama, untuk harga produk peternakan jauh di atas rata-rata harga produk lainnya. Pada sapi potong khususnya yang asli Indonesia adalah sapi Bali, Madura, Sumba dan peranakan Sumba Ongole (SO).
Adanya potensi yang kita miliki sudah sewajarnya jika kita  mengembangkan produk ternak potong, agar dapat memenuhi kebutuhan  protein hewani masyarakat kita. Kegiatan yang dilakukan pada saat praktikum  ternak antara lain pengamatan manajemen seleksi dan breeding, manajemen perawatan,  manajemen sanitasi dan pencegahan penyakit, manajemen pakan, manajemen perkandangan dan manajemen penanganan limbah. Hal inilah yang melatar belakangi dilakukannya Praktikum Pemeliharaan.
B.       Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui mengenai sanitasi kandang, pencampuran dan pemberian pakan, serta dapat mengetahui jumlah populasi ternak sapi potong yang digembalakan.
Kegunaan dari praktikum ini adalah agar praktikan dapat mengetahui bagaimana cara membersihkan atau sanitasi kandang, pencampuran dan pemberian pakan serta mengetahui jumlah ternak yang digembalakan. 


















TINJAUAN PUSTAKA



A.      Teori Pertumbuhan
1)      Proses  Pertumbuhan
Proses pertumbuhan merupakan suatu proses pertambahan berat hidup pada seekor ternak yang dimulai sejak terjadinya fertilisasi, yaitu saat bersatunya sel telur dengan spermatozoa sehingga terbentuk zygote, kemudian tumbuh menjadi embrio, foetus, dan selanjutnya lahir sebagai anak serta berakhir pada saat mengalami kematian yang alami sebagai akibat  proses penuaan . Pada proses pertumbuhan dapat dibedakan dalam 2 (dua) pengertian, yaitu (Damarapeka, 2011) :
a.       Pertambahan (growth).
               Pertumbuhan dalam arti pertambahan (growth) mempunyai pengertian sebagai pertambahan yang meliputi ukuran dan bobot dari suatu jaringan, misalnya jaringan daging, jaringan tulang dan jaringan syaraf. Dalam proses pertambahan ini gejala pertumbuhan dari suatu organ atau individu ditandai dengan sel-selnya bertambah banyak jumlahnya (proses perbanyakan sel) yang sering disebut dengan istilah hyperplasia dan bertambah besar sel-selnya atau proses perubahan bentuk sel, yang disebut dengan istilah hyperthropia.
b.      Perkembangan (development)
Pertumbuhan dalam arti perkembangan (development) mempunyai pengertian sebagai perubahan dari bentuk badan (body shape) atau konformasinya. Hal ini dapat terlihat jelas pada mahluk berderajad tinggi, misalnya perkembangan mental yang diikuti dengan perkembangan bentuk tubuhnya. Dengan kata lain, secara singkat proses perkembangan dapat diartikan sebagai proses perubahan bentuk, struktur dam konformasinya.
Pola pertumbuhan secara keseluruhan, yaitu sejak fase embrional sampai dengan pertumbuhan yang maksimum yaitu pada saat dicapainya dewasa tubuh merupakan proses yang cepat dan mempunyai pola yang tetap dan apabila digambarkan dalam suatu diagram atau kurva maka akan berbentuk sigmoid ( letter S; S Shape Curve). Kurva sigmoid akan dapat terjadi apabila seekor ternak tumbuh dalam lingkungan yang optimal, namun apabila seekor ternak yang pada waktu masih muda pernah mengalami kekurangan makanan, maka pertumbuhannya akan terhambat dan pertambahan berat badannya rendah, sehingga kurva sigmoid tidak akan tercapai. Kurva sigmoid tersebut dapat digambarkan apabila dilakukan penimbangan berat badan dari seekor ternak pada selang waktu tertentu dan perubahan berat badan tersebut digambar dalam suatu diagram maka akan terlihat sebagai kurva yang berbentuk sigmoid (Damarapeka, 2011).
2)      Fase-Fase  Pertumbuhan
Pada proses pertumbuhan  yang berlangsung mulai dari saat fertilisasi sampai dengan ternak mengalami kematian sebagai akibat proses penuaan dapat terbagi dalam 3 (tiga) fase berdasarkan pada kecepatan pertumbuhannya, yaitu (Damarapeka, 2011) :
a.       Fase stasioner/ fase initial/ fase latent.
Pada fase ini dimulai dari masa embrional sampai dengan foetus berumur 2/3 masa kebuntingan, misalnya untuk sapi sampai foetus berumur 6 bulan dalam kandungan. Dalam fase ini belum terlihat dengan jelas pertumbuhannya apabila dibandingkan dengan pertumbuhan secara keseluruhan akan tetapi persentase kecepatan tumbuh  (persentage growth rate) adalah tinggi. Hal ini disebabkan bahwa walaupun rata-rata pertambahan berat harian (Average Daily Gain) relatif rendah tetapi berat hidupnya juga rendah sehingga perbandingan antara rata-rata pertambahan berat harian (Average Daily Gain) dengan berat hidupnya menjadi tinggi.
b.      Fase eksponensial/ fase logaritmis.
Fase ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu (a) bagian pertama, dimulai dari umur foetus 1/3 akhir masa kebuntingan sampai dengan dicapainya umur dewasa kelamin (pubertas), misalnya pada sapi dari umur 3 bulan menjelang lahir sampai dengan umur pubertas yaitu 7-8 bulan. Pada fase bagian ini merupakan fase pertumbuhan yang memiliki kecepatan tumbuh paling cepat sehingga dapat dilihat dengan jelas kecepatan pertumbuhannya. Pada umumnya rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) maksimum dicapai pada saat menjelang pubertas yang disebut maximum growth rate, (b) bagian kedua, dimulai saat pubertas sampai tercapainya ukuran tubuh yang maksimal, yaitu pada sapi sampai umur 7-8 tahun. Pada fase bagian ini merupakan fase yang proses pertumbuhannya berangsur-angsur kecepatannya berkurang  sampai suatu saat tidak terjadi proses pertumbuhan.
Rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) akan mencapai titik nol (ADG = 0) pada saat dewasa tubuh maksimum dan pada saat itulah ternak tidak mengalami kenaikan berat badan lagi bahkan dapat terjadi penyusutan berat badan. Pada fase eksponensial/logaritmis ini grafik persentase kecepatan tumbuh (persentage growth rate) menunjukan kecenderungan menurun dan hal ini disebabkan meskipun  rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) besar tetapi berat hidupnya mempunyai kenaikan yang lebih besar dibandingkan dengan Rata-rata pertambahan berat badan harian (Average Daily Gain) itu sendiri.
c.       Fase regresi.
Fase ini merupakan kelanjutan dari fase sebelumnya dan berakhir sampai dengan terjadinya kematian yang alami. Pada fase ini tidak terjadi pertumbuhan, bahkan memungkinkan terjadi adanya suatu penyusutan berat atau ukuran sehingga dikatakan fase regresi. Setelah pertumbuhan maksimum dicapai, maka proses pertumbuhan dapat dikatakan berhenti tetapi dilanjutkan dengan proses lain dari kehidupan yang meliputi proses regenerasi, reparasi, reproduksi, dll. Pada saat berat maksimal dicapai, berat tersebut bertahan sampai kemudian berkurang dan apabila mulai berumur sangat tua terlihat mengalami penyusutan berat yang nyata dan saat itulah terjadi kecepatan pertumbuhan yang negatif.
Proses pertumbuhan apabila ditinjau dari ruang lingkup kehidupan ternak, maka  dapat dibagi dalam 2 (dua) periode waktu yaitu (Damarapeka, 2011) :
a.       Pertumbuhan Pre-Natal.
Pertumbuhan pre-natal merupakan pertumbuhan pada periode waktu selama masih embrio, yang kemudian tumbuh berkembang menjadi foetus. Dengan kata lain, pertumbuhan pre-natal merupakan pertumbuhan pada periode waktu hidup dalam kandungan.  Pada periode ini pertumbuhan foetus yang terbesar mulai dari 2/3 akhir masa kebuntingan, oleh karena itu hendaknya mulai saat itu pemberian makanan induk diusahakan sebaik mungkin karena pada pertumbuhan pre-natal ini banyak dipengaruhi oleh kondisi induk melalui fungsi dari placenta. Sebagai contoh pada induk ternak perah yang sedang bunting akan dilakukan suatu periode kering kandang (tidak diperah) mulai umur kebuntingan 7 bulan dengan maksud agar air susu tidak diperah lagi dan energi dari air susu dipergunakan untuk memulihkan kondisi serta untuk mensuplai makanan foetus yang relatif pertumbuhannya cepat.
b.      Pertumbuhan Post-Natal
Pertumbuhan post-natal dimulai dari saat dilahirkan sampai dengan terjadinya kematian secara alami. Pada saat lahir sampai dengan saat penyapihan terjadi pertumbuhan yang relatif cepat dan kemudian setelah umur sapih mengalami penurunan sedikit. Kecepatan pertumbuhan anak sejak dilahirkan sampai dengan disapih sangat bergantung kepada atau banyak ditentukan oleh produksi air susu induk, disamping adanya pengaruh dari  makanan dan lingkungan.
Dengan kata lain, pertumbuhan selama periode laktasi banyak dipengaruhi oleh faktor induk (maternal factor). Pada saat menjelang dewasa kelamin (pubertas) terjadi pertumbuhan yang cepat kembali, sedang pada saat menjelang dewasa tubuh (mature), laju pertumbuhan relatif lambat dan sesudah itu pemeliharaan ternak potong pada umumnya sudah tidak menghasilkan kenaikan berat badan lagi. Pada ternak sapi dewasa kelamin (pubertas) dicapai pada umur lebih kurang 8 bulan, sedangkan dewasa tubuh (mature) dimana maksimum  ukuran tubuhnya tercapai yaitu kira-kira pada umur 6-8 tahun.
B.       Sistem Pemeliharaan
Sistem pemeliharaan sapi potong dikategorikan dalam tiga yaitu sistem pemeliharaan intensif yaitu ternak dikandangkan, sistem pemeliharaan semi intensif yaitu ternak dikandangkan pada malam hari dan dilepas di padang penggembalaan pada pagi hari dan sistem pemeliharaan ekstensif yaitu terna dilepas di padang penggembalaan (Hernowo, 2006).
Pemeliharaan  persiapan yang harus dilakukan sebelum memulai memelihara ternak sapi potong adalah membersihkan kandang dengan desinfeksi. Demikian juga dalam penggunaan alat harus memenuhi baik faktor higienis, keamanan ternak maupun efisiensi (Anonim, 2012).
Induk yang sedang bunting sama dengan sapi yang sedang berproduksi, membutuhkan makanan yang cukup mengandung protein, mineral dan vitamin. Induk bunting harus dipisahkan dengan kelompok sapi yang tidak bunting dan pejantan. Semua induk bunting hendaknya dikumpulkan menjadi satu. Apabila sudah dekat masa melahirkan harus dipisahkan di kandang tersendiri yang bersih, kering, dan terang. Lantai kandang harus diberi alas, misalnya dengan jerami atau rumput (Anonim, 2012).
Jika “pedet” (anak sapi umur 0 – 8 bulan) telah lahir, semua lendir yang menyelubungi tubuh. Sewaktu membersihkan lendir pada tubuh, peternak harus menekan-nekan dada pedet untuk merangsang pernapasan. Selanjutnya tali pusar dipotong, disisakan sepanjang 10 cm dan diberi desinfektan dengan yodium tincture 10 persen. Tiga puluh menit sesudah lahir, biasanya pedet sudah mulai bisa berjalan dan menyusu pada puting induk. Tempat dimana pedet itu berbaring harus diberi alas jerami atau rumput kering yang bersih dan hangat (Anonim, 2012)
Pada sistem pemeliharaan yang kurang baik umumnya peternak memberikan pakan yang tidak menentu, peternak umumnya tidak mengerti nilai padang penggembalaan dan peternak biasanya tidak mengusahakan lahan yang cukup untuk memungkinkan peternak menanam tanaman khusus sebagai pakan ternak, sapi – sapi dibiarkan merumput mencari makan pada semak – semak. Mereka mungkin diberi berbagai konsentrat sisa pabrik seperti dedak padi, tetapi pada banyak negara, makanan seperti itu diberikan untuk makanan ayam. Padahal sistem pemeliharaan yang baik akan memberikan hasil produksi yang jauh lebih baik pula (Bambang, 1990).

C.      Sistem Perkandangan
Perkandangan merupakan segala aspek fisik yang berkaitan dengan kandang dan sarana maupun prasarana yang bersifat sebagai penunjang kelengkapan dalam suatu peternakan. Sarana fisik tersebut antara lain kantor pengelola, gudang, kebun hijauan pakan, dan jalan (Peter, 2012).
Kandang merupakan salah satu sarana terpenting untuk ternak potong karena merupakan tempat  peristirahatan sapi dan tempat pemberian pakan dan air serta tempat berlindungnya sapi dari hewan buas. Sistem perkandangan pada sapi potong meliputi syarat kandang dan konstruksi dari kandang.
1.        Syarat Kandang
Kandang  merupakan salah satu unsur penting dalam suatu usaha peternakan, terutama dalam penggemukan ternak potong. Bangunan kandang yang baik harus bisa memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman.
Bangunan kandang diupayakan pertama-tama untuk melindungi sapi terhadap gangguan dari luar yang merugikan, baik dari sengatan matahari, kedinginan, kehujanan dan tiupan angin kencang. Selain itu, kandang juga harus bisa menunjang peternak dalam melakukan kegiatannya, baik dari segi ekonomi maupun segi kemudahan dalam pelayanan. Kandang berfungsi sebagai lokasi tempat pemberian pakan dan minum. Dengan adanya kandang, diharapkan sapi tidak berkeliaran di sembarang tempat, mudah dalam pemberian pakan dan kotorannya pun bisa dimanfaatkan seefisien mungkin (Anonim, 2012).

2.   Kontruksi Kandang
Konstruksi kandang harus kuat serta terbuat dari bahan- yang ekonomis dan mudah diperoleh. Di dalam kandang harus ada drainase dan saluran pembuangan Iimbah yang mudah dibersihkan. Tiang kandang sebaiknya dibuat dari kayu berbentuk bulat agar Iebih tahan lama dibandingkan dengan kayu berbentuk kotak. Selain itu, kayu bulat tidak akan melukai tubuh sapi, berbeda dengan kayu kotak yang memiliki sudut tajam (Wello, 2011).
Menurut Wello (2011) bagian-bagian kandang adalah sebagai berikut:
·   Atap kandang
        Atap merupakan pembatas (isolasi) bagian atas dari kandang dan berfungsi untuk menghindari air hujan dan terik matahari, menjaga kehangatan ternak di waktu malam hari serta menahan panas yang dihasilkan oleh tubuh sendiri. Tanpa atap, panas di dalam kandang sebagian akan hilang ke atas pada waktu malam, sehingga suasana kandang pada saat itu akan menjadi dingin. Sudut kemiringan atap sekitar 30o dengan bagian yang miring meluncur kebagian belakang.
·   Tinggi kandang
                 Kandang di daerah yang mempunyai suhu lingkungan agak panas (dataran rendah dan pantai) hendaknya dibangun lebih tinggi dari pada kandang yang ada di daerah pegunungan. Hal ini dimaksudkan agar udara panas di dalam ruangan kandang lebih bebas bergerak atau berganti sehingga dapat diperoleh ruang kandang cukup sejuk.


·    Kerangka kandang
Terbuat dari bahan besi, besi beton, kayu dan bambu disesuaikan dengan tujuan dan kondisi yang ada. Pemilihan bahan kandang hendaknya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan tujuan usaha.
·   Dinding kandang
Dinding kandang sapi lebih sederhana dibandingkan dengan kandang kerbau, namun perlu diperhatikan bahwa dinding sebagai pembatas bagian tepi kandang yang berfungsi sebagai penahan angin langsung, penahan keluarnya udara panas dari dalam kandang yang dihasilkan oleh tubuh ternak.
Ada berbagai macam bahan yang bisa dimanfaatkan untuk dinding. Kriteria bahan harus ditinjau dari segi kemanfaatan, jaminan bagi hidup ternak, dan ekonomis. Bahan-bahan yang bisa dipergunakan sebagai dinding kandang sapi pada umumnya berasal dari anyaman bambu, papan dan tembok.
·   Lantai kandang
Lantai kandang sebagai batas bangunan kandang bagian bawah, atau tempat berpijak dan berbaring bagi sapi pada sepanjang waktu, maka pembuatan lantai kandang harus benar-benar memenuhi syarat : rata, tidak licin, tidak mudah menjadi lembab, tahan injakan, atau awet.
·   Tempat pakan dan air minum
Bagian kandang yang juga harus diperhatikan adalah tempat pakan dan air minum. Tempat/bak pakan dapat dibuat dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 50 cm dan dalamnya 30 cm untuk setiap ekor dewasa. Tempat pakan diperlukan untuk efisiensi dan efektifitas pakan yang diberikan. Biaya pakan akan membengkak jika pakan yang diberikan tidak habis dimakan ternak tetapi hanya berserakan didalam maupun luar kandang.
·   Selokan
Selokan berfungsi sebagai tempat pembuangan kotoran. Selokan biasanya dibuat dengan lebar 20-30 cm dan kedalaman 10-20 cm. Selokan ini dibuat di dalam kandang di bagian ekor sapi, baik itu di kandang tunggal maupun kandang ganda. Tujuannya, agar pekerja mudah membersihkan kotoran dan urine sapi.
3.        Peralatan Kandang
Menurut (Anonim, 2012) dalam kegiatan pemeliharraan ternak, dibutuhkan peralatan untuk keperluan di dalam kandang. Peralatan hendaknya selalu dalam keadaan bersih, adapun peralatan kandang yang diperlukan antara lain sbegai berikut:
·               Ember
Digunakan untuk mengangkut air, pakan penguat, dan memandikan ternak. Sebaiknya ember terbuat dari bahan antikarat, seperti ember plastik.
·            Sikat
Digunakan untuk menggosok badan ternak waktu dimandikan dan menggosok lantai waktu membersihkan kandang. Sikat yang baik terbuat dari ijuk.
·            Skop
Digunakan untuk mengambil dan mengaduk pakan penguat, mengambil/membuang kotoran.
·            Sapu lidi dan sapu ijuk
Digunakan untuk membersihkan kandang, sebaiknya sapu terbuat dari lidi daun kelapa.
·            Gerobak
Untuk pemberian pakan, mengangkut sisa-sisa kotoran, sampah, rumput ke tempat pembuangan.
·      Karung
Digunakan untuk tempat pakan.
4.        Model  Kandang
Menurut Purnawan dan Saparinto (2009) ada 2 model kandang sapi, yakni kandang bebas (loose housing) dan kandang konvensional (convention/stanchion barn).
a.      Kandang Bebas
Kandang bebas merupakan barak atau areal yang cukup luas dengan atap diatasnya. Kandang ini ditempati populasi sapi tanpa adanya batasan sedikit pun. Sapi dapat bergerak bebas kemana saja selama masih ada didalam area kandang. Kandang bebas hanya terdiri dari satu bangunan atau ruangan, tetapi digunakan untuk ternak dalam jumlah banyak, Sebuah kandang bebas yang berukuran 7m X 9m dan dapat menampung 20-25 ekor sapi.
Pembesaran sapi didalam kandang bebas dapat menyebabkan beberapa hal berikut:
·      Membutuhkan biaya pembuatan kandang, tetapi lebih murah dibanding dengan kandang individual.
·      Penggunaan tenaga kerja lebih sedikit.
·      Kandang mudah dikembangkan tanpa banyak perubahan
·      Sapi mudah saling beradu
·      Mudah untuk membantu mendeteksi birahi
b.      Kandang Konvensional
Posisi ternak yang dipelihara di dalam kandang dibuat sejajar, lazim disebut sistem stall. Susunan stall ada tiga macam yaitu stall tunggal, stall ganda tail to tail, dan stall face to face.
·         Stall Tunggal
Pada kandang stall tunggal, sapi ditempatkan satu baris dengan kepala searah. Bentuk ini tepat untuk jumlah ternak yang tidak lebih dari 10 ekor.
§  Stall Ganda Tail To Tail
Sapi pada kandang Stall ganda tail to tail ditempatkan dua baris sejajar (stall ganda) dengan gang di tengah, sedangkan kepala ternak berlawanan arah atau ekor saling berhadapan (tail to tail).
§  Stall Ganda Face To Face
Model kandang ini mendesain sapi pada dua baris sejajar dengan gang di tengah dengan kepala ternak saling berhadapan (face to face). Gang di tengah agak lebar.
D.      Sistem Pemberian Pakan
Pakan sangat penting untuk diperhatikan, karena pakan sangat besar pengaruhnya terhadap pertambahan bobot badan sapi. Pakan diperlukan untuk hidup pokok, pertumbuhan , reproduksi, dan produksi daging. Zat gizi utama yang dibutuhkan sapi potong adalah protein dan energi (Anonim, 2012).
            Pakan yang diberikan untuk sapi potong harus cukup, baik mengenai mutu dan pertumbuhan sehingga harus diberikan secara rutin dan teratur yaitu pada pagi dan sore hari. Pakan yang kurang akan menghambat pertumbuhan. Hal yang terpenting adalah pakan dapat memenuhi kebutuhan protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral bagi ternak. Pakan ternak sapi digolongkan ke dalam tiga jenis, yaitu (Anonim, 2012).
1.      Pakan Hijauan
Pakan hijauan ialah semua bahan pakan yang berasal dari tanaman ataupun tumbuhan, misalnya bangsa rumput (Gramineae), legum dan tumbuh-tumbuhan lain. Pakan hijauan ini dapat diberikan dalam dua macam bentuk, yaitu dalam bentuk hijauan segar (diberikan dalam keadaan masih segar ataupun berupa “silase”) dan dalam bentuk kering, bisa berupa “hay” (hijauan yang sengaja dikeringkan) atau jerami kering (sisa hasil ikutan pertanian yang dikeringkan). Pakan hijauan ini banyak mengandung serat kasar. Seekor ternak sapi diberi hijauan tergantung dari berat badannya, sekitar ± 10% dari berat badan.
2.      Pakan Konsentrat (Penguat)
Pakan konsentrat adalah campuran bahan-bahan makanan yang dicampur sedemikian rupa sehingga menjadi suatu bahan makanan yang berfungsi untuk melengkapi kekurangan gizi dari bahan makanan lainnya (hijauan). Pakan konsentrat mempunyai kandungan serat kasar rendah dan mudah dicerna. Pemberian pakan konsentrat per ekor per hari ± 1% dari berat badan. Contoh bahan pakan konsentrat adalah dedak, bekatul, bungkil kelapa, tetes, jagung dan berbagai ubi.
3.      Pakan Tambahan
Pakan tambahan dapat berupa vitamin, mineral dan urea. Pakan tambahan ini dibutuhkan oleh sapi yang dipelihara secara intensif, yang hidupnya berada di dalam kandang terus menerus. Vitamin yang dibutuhkan ternak sapi adalah vitamin A (karotin) dan vitamin D. Mineral dibutuhkan oleh sapi untuk berproduksi. Mineral yang dibutuhkan oleh sapi terutama adalah Ca dan P. Ca dan P ini dapat diperoleh dari tepung tulang (mengandung 23-33% Ca dan 10-18% P). Urea hanya dapat diberikan kepada sapi dalam jumlah yang sangat terbatas, yaitu 2% dari seluruh ransum yang diberikan.
Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua (Anonim, 2012) : 
·         Penggembalaan dilakukan dengan melepas sapi-sapi di padang rumput, yang biasanya dilakukan di daerah yang mempunyai tempat penggembalaan cukup luas, dan memerlukan waktu sekitar 5-7 jam per hari.
·         Pakan dapat diberikan dengan cara dijatah/disuguhkan yang yang dikenal dengan istilah kereman. Sapi yang dikandangkan dan pakan diperoleh dari ladang, sawah/tempat lain. Setiap hari sapi memerlukan pakan kira-kira sebanyak 10% dari berat badannya dan juga pakan tambahan 1% - 2% dari berat badan. Ransum tambahan berupa dedak halus atau bekatul, bungkil kelapa, gaplek, ampas tahu. yang diberikan dengan cara dicampurkan dalam rumput ditempat pakan. Selain itu, dapat ditambah mineral sebagai penguat berupa garam dapur, kapus. Pakan sapi dalam bentuk campuran dengan jumlah dan perbandingan tertentu ini dikenal dengan istilah ransum.
·         Pemberian pakan sapi yang terbaik adalah kombinasi antara penggembalaan dan keraman.  Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase. Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (leguminosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro.
Pemberian jumlah pakan berdasarkan periode sapi seperti anak sapi sampai sapi dara, periode bunting, periode kering kandang dan laktasi. Pada anak sapi pemberian konsentrat lebih tinggi daripada rumput. Pakan berupa rumput bagi sapi dewasa umumnya diberikan sebanyak 10% dari bobot badan (BB) dan pakan tambahan sebanyak 1-2% dari BB. Sapi yang sedang menyusui (laktasi) memerlukan makanan tambahan sebesar 25% hijauan dan konsentrat dalam ransumnya (Anonim, 2012).
Sumber karbohidrat berupa dedak halus atau bekatul, ampas tahu, gaplek, dan bungkil kelapa serta mineral (sebagai penguat) yang berupa garam dapur, kapur, dll. Pemberian pakan konsentrat sebaiknya diberikan pada pagi hari dan sore hari sebelum sapi diperah sebanyak 1-2 kg/ekor/hari. Selain makanan, sapi harus diberi air minum sebanyak 10% dari berat badan perhari.Pemeliharaan utama adalah pemberian pakan yang cukup dan berkualitas, serta menjaga kebersihan kandang dan kesehatan ternak yang dipelihara. Pemberian pakan secara intensif dikombinasikan dengan penggembalaan Di awal musim kemarau, setiap hari sapi digembalakan. Di musim hujan sapi dikandangkan dan pakan diberikan menurut jatah. Penggembalaan bertujuan pula untuk memberi kesempatan bergerak pada sapi guna memperkuat kakinya (Anonim, 2012).
E.       Teknik Pencampuran Pakan
Pencampuran pakan dapat dilakukan secara manual yaitu menggunakan alat sederhana berupa skop yang dilakukan di atas lantai atau menggunakan mesin (feedmill). Pencampuran secara manual dilakukan oleh tenaga kerja manusia, dengan cara bahan pakan disusun sesuai formula mulai dari yang jumlahnya paling banyak hingga yang paling sedikit dan kemudian dilakukan pencampuran (Gunawan et al., 2003).
Penyampuran pakan menggunakan mesin dilakukan oleh serangkaian mesin-mesin yang biasanya dioperasikan oleh pabrik-pabrik pakan ternak yang memproduksi pakan dalam jumlah puluhan ton setiap hari. Mesin pembuat pakan terdiri atas mesin-mesin penggiling (hammer mill), mesin penimbang (weigher), mesin pemutar (cyclone), mesin pemindah bahan (elevator), mesin  penghembus (blower) dan mesin pencampur (mixer). Diagram dari penyampuran menggunakan  mesin (feedmill) dengan kapasitas 1 ton/jam (Gunawan et al., 2003).
Proses pakan menggunakan mesin lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja dan menghasilkan campuran pakan lebih homogen. Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa biaya processing pakan hingga packaging berkisar antara Rp. 85 hingga Rp. 100 untuk per kg campuran pakan (Gunawan et al., 2003).
F.       Sistem Penggembalaan
Sistem penggembalaan adalah pemeliharaan ternak sapi yang dilaksanakan dengan cara ternak digembalakan di suatu padang penggembalaan yang luas, terdiri dari padang penggembalaan rumput dan leguminosa. Sistem padang penggembalaan merupakan kombinasi antara pelepasan ternak di padang penggembalaan bebas dengan pemberian pakan. Padang penggembalaan tersebut bisa terdiri dari rumput atau leguminosa. Tetapi suatu padang rumputnya yang baik dan ekonomis adalah yang terdiri dari campuran rumput dan leguminosa (Maslikha, 2013).
Hingga abad ke 19, metode penggembalaan secara umum tidak tampak. Wilayah penggembalaan hewan ternak digembalakan berlebihan dalam waktu lama (overgrazing) sehingga menimbulkan kerusakan lahan dan penurunan hasil ternak. Berikut Jenis-jenis sistem penggembalaan (Anonim, 2013).
1.      Penggembalaan Musiman
Penggembalaan musiman adalah menggembalakan hewan ternak pada area tertentu dan di musim tertentu pada tahun tersebut. Hal ini memungkinkan suatu lahan diistirahatkan selama penggembalaan tidak berlangsung untuk menumbuhkan rerumputan kembali. Di musim ketika hewan ternak tidak digembalakan (misal di musim dingin), hewan ternak diberi pakan fermentasi (silase).
2.      Penggembalaan Rotasi
Penggembalaan rotasi membagi wilayah penggembalaan menjadi beberapa titik untuk menjadi tempat-tempat yang digembalakan secara berurutan hingga kembali ke titik awal. Penggembalaan rotasi harus memperhitungkan "waktu istirahat" yang cukup bagi lahan di suatu titik untuk menumbuhkan kembali rumputnya. Metode ini dilakukan sepanjang musim jika memungkinkan.
3.      Penggembalaan Petak-Bakar
Penggembala membakar sepetak lahan yang berisi rumput kering. Area yang telah terbakar ini kemudian akan menumbuhkan rumput baru dan hewan ternak digembalakan setelah rumput baru tumbuh. Setelah dua tahun atau lebih, petak lainnya dibakar untuk menumbuhkan rumput baru. Metode ini mencerminkan hubungan antara ekologi api dan bison di padang rumput dan sabana. Usaha ini juga digunakan untuk memulihkan populasi bison yang pernah hampir punah di alam liar. Kini bison tidak dikategorikan sebagai hewan yang terancam punah karena sudah didomestikasi.
4.      Penggembalaan Tepian
Penggembalaan tepian (riparian grazing) digunakan untuk melestarikan hewan liar yang berbagi kawasan penggembalaan dengan hewan ternak. Manajemen dilakukan seperti penggunaan pagar atau dibatasi oleh situs alam seperti sungai. Manajemen dilakukan terutama jika spesies, jumlah, dan periode penggembalaan yang berbeda.






METODOLOGI PRAKTIKUM



A.       Waktu dan Tempat
Praktikum Pemeliharaan dilaksanakan pada hari minggu tanggal 13 April sampai dengan hari minggu tanggal 20 April 2014 yang bertempat di Laboratorium Ternak Potong dan Padang Penggembalaan  Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar.
B.       Materi Praktikum
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah sapu lidi, skop, gerobak, parang, karung, ember dan tempat sampah.
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah ternak sapi potong sebanyak 39 ekor, dedak 10 kg, rumput gajah, molases 1 kg, Tumpi jagung 15 kg, tepung kacang telur 2 kg, ampas tahu 15 kg, Mineral 0,2 kg, dan tepung coklat 2 kg, garam secukupnya, Urea 0,3 kg.
C.      Metode Praktikum
1.      Sanitasi Kandang
Pembersihan atau sanitasi dilakukan selama 7 hari setiap pagi dan sore hari, yaitu pagi pada pukul 06.30 - selesai WITA dan sore pukul 16.00 - selesai WITA. Dimana dalam 7 hari tersebut, kandang dibersihkan dari kotoran yang umumnya sisa bahan pakan yang bercampur dengan kotoran sapi itu sendiri, selokan, palungan (tempat makan dan air minum), gang tengah dan lantai.

2.      Pencampuran dan Pemberian Pakan
                              Pemberian makanan yaitu berupa hijauan dan konsentrat (makanan tambahan) sebanyak 2 ember pada pagi hari sedangkan pemberian air minum dengan cara adlibitum (tidak terbatas).
Metode pencampuran pakan yang dilakukan yakni pertama-tama menyiapkan alat dan bahan. Minimbang masing-masing bahan ransum sesuai dengan perhitungan penyusunan ransum, yaitu dedak 10 kg, tumpi jagung 15 kg feed supplement 0,2 kg, tepung coklat 2 kg, tepung kacang telur 2 kg. Setelah diperoleh hasil penimbangan, selanjutnya mencampur bahan dengan cara menumpuk bahan ransum dari jumlah yang terbanyak hingga yang paling sedikit berada di atas. Setelah itu, melakukan penghomogenan dengan cara membolak-balikkan pakan menggunakan sekop hingga 4 kali atau sampai homogen. Masukkan ransum yang homogen ke dalam karung yang telah disiapkan dan simpan dalam gudang pakan. Sedangkan konsentrat cair dengan cara mencampurkan ampas tahu seberat 15 kg dengan molasses 1 kg, urea 0,3 kg dan garam secukupnya.
3.      Penggembalaan
                              Penggembalaan dilakukan yaitu pada pagi hari hingga sore. Dimana ternak mulai dikeluarkan dari kandangnya pada pukul 10.00 WITA dan dibiarkan merumput hingga pada pukul 05.00 WITA. Setelah merumput ternak kemudian dikembalikan pada kandang dan diberikan rumput.
Penghitungan dilakukan dengan cara pengamatan langsung di lapangan. Menyiapkan buku catatan, kemudian hasil  jumlah sapi yang terdiri dari induk, dara, pedet, pejantan dan jantan muda, lalu catat pada buku catatan.









































HASIL DAN PEMBAHASAN



A.      Keadaan Khusus Ternak Potong
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa keadaan khusus ternak potong yang ada di kandang dalam kondisi yang sehat. Kandang dari ternak potong ditempati oleh ternak dalam keadaan berkelompok. Jumlah seluruh sapi yang berada di dalam kandang yaitu 39 ekor. Induk yang terdapat di dalam populasi ternak potong terdiri dari 10 ekor dan dara 11 ekor. Jantan terdiri atas pejantan 2 ekor, jantan muda 6 ekor dan total pedet 10 ekor. Jenis kandang yang ditempati oleh ternak potong yaitu jenis kandang bebas karena ternak bebas masuk ke dalam kandang yang disukai dan merupakan kandang yang tidak memiliki penyekat dalam satu ruang kandang yang ditempati oleh suatu populasi ternak sapi potong. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarif (2012) yang menyatakan bahwa kandang bebas (koloni) merupakan barak terbuka tanpa ada penyekat di antara ternak sehingga ternak bebas bergerak pada areal yang cukup luas, kecuali pada waktu diberi perlakuan khusus.
Selain itu, kebutuhan nutrisi dari masing-masing ternak berbeda-beda karena kebutuhan hidup dan produksi dari masing-masing ternak juga berbeda-beda. Pada umumnya, setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarif (2012) yang menyatakan bahwa setiap sapi membutuhkan makanan berupa hijauan seperti sapi dalam masa pertumbuhan, sedang menyusui, dan supaya tidak jenuh memerlukan pakan yang memadai dari segi kualitas maupun kuantitasnya. Pemberian pakan dapat dilakukan dengan 3 cara: yaitu penggembalaan (Pasture fattening), kereman (dry lot faatening) dan kombinasi cara pertama dan kedua.
Pemberian pakan sapi yang dilakukan yaitu dengan cara kereman, yaitu ternak didalam kandang dan diberikan pakan. Pemberian pakan dengan cara ini merupakan pemberian pakan yang terbaik. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarif (2012), yang menyatakan bahwa pemberian pakan dengan kereman adalah pemberian pakan yang terbaik.
Menurut keadaannya, jenis hijauan dibagi menjadi 3 katagori, yaitu hijauan segar, hijauan kering, dan silase.Macam hijauan segar adalah rumput-rumputan, kacang-kacangan (leguminosa) dan tanaman hijau lainnya. Rumput yang baik untuk pakan sapi adalah rumput gajah, rumput raja (king grass), daun turi, daun lamtoro. Hijauan kering berasal dari hijauan segar yang sengaja dikeringkan dengan tujuan agar tahan disimpan lebih lama.
B.       Pencampuran Bahan Pakan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa metode pencampuran pakan yang dilakukan yakni pertama-tama menyiapkan alat dan bahan. Menimbang masing-masing bahan ransum sesuai dengan perhitungan penyusunan ransum, seperti dedak, tumpil jagung, ampas tahu berfungsi sebagai sumber mineral. Molases sebagai sumber energy, Tepung mineral tepung coklat, tepung kacang telur sebagai sumber protein. Selanjutnya mencampur bahan dan melakukan penghomogenan dengan cara membolak-balikkan pakan menggunakan sekop. Masukkan ransum yang homogen ke dalam karung yang telah disiapkan dan simpan dalam gudang pakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarif (2012), yang menyatakan bahwa Metode pencampuran pakan, pertama-tama menyiapkan alat dan bahan. Kemudian menimbang masing-masing bahan ransum sesuai dengan perhitungan penyusunan ransum. Setelah diperoleh hasil penimbangan, selanjutnya bahan dicampur dengan cara menumpuk bahan ransum dari jumlah yang terbanyak hingga yang paling sedikit berada di atas. Setelah itu melakukan penghomogenan dengan cara membolak-balik pakan menggunakan sekop hingga 4 kali atau sampai homogen. Kemudian setalah ransum tersebut homogen, lalu dimasukkan ke dalam karung yang telah disiapkan dan menyimpannya di dalam gudang pakan.
Menurut Syarif (2012) pencampuran pakan kering juga sudah dapat dilakukan dengan menggunakan mesin pemcampur dengan posisi tong miring, hasil program vucer 2004. Namun, proses pencampuran pakan biasanya masih dilakukan secara manual. Oleh karena itu, rekayasa mesin pencampur pakan basah menjadi penting untuk dilakukan.
C.      Pemberian Pakan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa pemberian pakan dan minum dilakukan setiap hari setelah proses sanitasi atau pembersihan kandang. Pemberian pakan pada pagi hari diberikan konsentrat. Pemberian konsentrat tersebut bertujuan untuk meningkatkan pH rumen dan sebagai penambah energi, begitu pula dengan pemberian air minum diberikan secara adlibitum (tidak terbatas). Sedangkan pada sore hari diberikan hijauan. Hal ini sesuai dengan pendapat Syarif (2012) yang menyatakan bahwa pemberian pakan pada ternak sapi potong sebaiknya ransum hendaknya tidak diberikan sekaligus dalam jumlah banyak setiap harinya, melainkan dibagi menjadi beberapa bagian. Pada pagi hari (misalnya pukul 07.00), sebaiknya sapi diberi sedikit hijauan untuk merangsang keluarnya saliva (air ludah). Saliva ini berfungsi sebagai buffer (penyangga) di dalam rumen sehingga pH rumen tidak mudah naik maupun turun pada saat sapi diberi konsentrat. Pemberian konsentrat dengan kandungan karbohidrat tinggi akan mudah terfermentasi sehingga menghasilkan asam lemak dengan mudah (volatile fatty acid, VFA) yang berpotensi menurunkan pH rumen. Sementara pemberian konsentrat yang banyak mengandung protein terdegradasi (rumen degradable protein, RDP) akan menghasilkan NH3 yang berpotensi meningkatkan pH rumen. Kondisi peningkatan atau penurunan pH rumen secara ekstrim akan berbahaya bagi kesehatan ternak, bahkan dapat berakibat fatal, yaitu terjadinya kematian pada ternak.
D.      Penggembalaan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa penggembalan yang dilakukan dari tingkah laku ternak yang selalu berkumpul, dan mengikuti salah satu pemimpinnya, dan jika memakan rumput, maka sapi akan mengambil terlebih dahulu bagian tengah rumput agar bisa terlipat dua sehingga sapi bisa memakannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Lesmana (2013) yang menyatakan bahwa ketersediaan pakan yang terbatas akan cenderung meningkatkan perilaku sapi yang menyentuhkan bagian mulutnya ke benda seperti tempat air, memainkan lidahnya, atau menggertakkan giginya. Terjadi respon pertahanan atau ingin melarikan diri dengan intensif yang ditandai dengan menendang atau menyapukan ekor pada tiang penyangga secara terus menerus apabila ada hal yang mengancam atau mengganggu.  Pedet yang mengisap benda lain yang ada disekitarnya ketika tidak tersedia induk untuk menyusu.  Ternak yang tidak dibiarkan keluar dari kandangnya  untuk jangka waktu yang lama akan jauh lebih antusias saat digembalakan untuk pertama kali dibandingkan dengan yang digembalakan setiap hari.
Menurut Lesmana (2013) bahwa banyak perilaku yang ditunjukkan dengan keras sebagai sebuah respons menuju stimulus fisik dan fisiologis, tapi pada kenyataannya pengaruh psikologis sekuat fisiologis atau fisik. Sebagai contoh, sapi alaminya digembalakan, dan konsekuensinya memakan lebih dari apa yang seharusnya mereka konsumsi.











PENUTUP



Kesimpulan
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan, yaitu :
§ Keadaan khusus untuk ternak potong yang ada di kandang dalam kondisi yang sehat. Kandang dari ternak potong ditempati oleh ternak dalam keadaan berkelompok. Jenis kandang yang ditempati yaitu jenis kandang bebas karena ternak bebas masuk ke dalam kandang yang disukai.
§ Pencampuran pakan yang dilakukan bertujuan untuk memberikan energi yang cukup bagi ternak selama 24 jam.
§ Pemberian pakan dan minum dilakukan setiap hari setelah proses sanitasi atau pembersihan kandang. Pemberian pakan pada pagi hari diberikan konsentrat yaitu pukul 06.30 WITA. Pemberian konsentrat tersebut bertujuan untuk meningkatkan pH rumen dan sebagai penambah energi. Sedangkan pada sore hari diberikan hijauan sebagai pakan utama yaitu pukul 16.00 WITA.
§ Pengembalaan dilakukan pada siang hari yaitu pukul 10.00 WITA dengan membawa ternak ke padang pengembalaan untuk dilepas secara bebas sehingga ternak bisa mengkonsumsi rumput secara bebas tergantung pada ketersediaan rumput di lapangan.  
§ Jumlah ternak sapi potong yang dipelihara adalah sebanyak 39 ekor. Jantan 14 ekor, betina 25 ekor dengan rincian pejantan 2 ekor, jantan muda 6 ekor, induk 10 ekor, dara 11 ekor, pedet 10 ekor (4 betina dan 6 jantan).
Saran
Saran untuk Laboratorium, yaitu sebaiknya kandang pemeliharaan dibuat lebih nyaman agar ternak merasa nyaman di dalam kandang, sedangkan untuk asisten agar dapat memberikan penjelasan lebih rinci kepada praktikan tentang hal-hal yang berhubungan dengan proses pemeliharaan dan pengembalaan. Adapun untuk praktikan sendiri sekiranya menjalani praktikum sesuai dengan prosedur yang telah disepakati, misalnya menggunakan baju praktikum dan disiplin waktu agar paraktikum berjalan sesuai waktu yang ditentukan.








DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Sistem Pemberian Pakan Ternak Sapi Potong. info-peternakan.blogspot.com/2012/11/sistem-pemberian-pakan-ternak-sapi.html.

Anonim. 2013. Penggembalaan Hewan. http://id.wikipedia.org/wiki/ Penggembalaan_hewan.

Bambang. A. 1990. Sistem Produksi Ternak Potong Di Kolaka-Sulawesi Tenggara. Skripsi. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.


Gunawan, D. E. Wahyono, dan P. W. Prihandini. 2003. Strategi Penyusunan Pakan Murah Sapi Potong Mendukung Agribisnis. Lokakarya Sistem Integrasi Kelapa Sawit-Sapi.

Herwono, S. 2006. Produksi Ternak Potong. Pustaka Media. Jakarta.

Lesmana, A. 2013. Makalah Tingkah Laku Sapi (Animal Behavior). http://andrylesmana273.blogspot.com/2013/11/makalah-tingkah-laku-sapi-animal_6168.html.

Maslikha, L. 2013. Pemanfaatan Jenis Tanah Kelas Vi Untuk Penggembalaan Ternak Sapi Potong. http://smally23.blogspot.com/ 2013/10/makalah-padang-penggembalaan.html.


Saparinto. 2009. Sistem Perkandangan dan Tipe Kandang. Agro Media. Bogor.

Syarif, I. 2012. Laporan Praktikum Sapi Potong  Produksi Ternak Potong Dan Kerja.http://nasasulsel.blogspot.com/2012/12/laporan-praktikum  -sapi-potong.html.

Wello. 2011.  Teknik pemeliharaan Sapi potong. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.