Minggu, 09 November 2014

Penyakit cacar atau Fowl pok (FP)



TUGAS MAKALAH  INDIVIDU
ILMU KESEHATAN TERNAK


Penyakit cacar atau Fowl pok (FP)

NAMA            : RAHMA NINGSI
NIM                : I 111 12 295
KELAS           : GANJIL






FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

KATA PENGANTAR
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ
Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah, karena atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nylah sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah Mengenai Penyakit cacar atau Fowl pok (FP)sebagai salah satu syarat untuk lulus mata kuliah Ilmu Kesehatan Ternak.
Pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah meluangkan waktunya untuk membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini. Serta terima kasih kepada teman-teman atas kerja samanya dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini, tentu masih terdapat beberapa kesalahan dan masih jauh dari yang diharapkan. Maka dari itu, saya membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar kedepannya dapat mencapai kesempurnaan.
Akhir kata, semoga Makalah ini dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi kita semua. Amin.

Makassar,        2014

Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Pengembangan usaha ternak layer (ayam petelur) di Indonesia masih memiliki prospek yang bagus, terlebih lagi konsumsi protein hewani masih kecil. Sesuai standar nasional, konsumsi protein per hari per kapita ditetapkan 55 g yang terdiri dari 80% protein nabati dan 20% protein hewani (www.litbang.deptan.co.id). Hal itu berarti target konsumsi protein hewani sekitar 11 g/hari/perkapita. Namun yang terjadi, konsumsi protein hewani penduduk Indonesia baru memenuhi 4,7 g/hari/perkapita, jauh lebih rendah dibanding Malaysia, Thailand dan Filipina.
Dalam dunia peternakan, kita tidak asing lagi dengan ayam yang sengaja diternakan untuk dihasilkan daging atau telurnya, karena sudah banyak peternakan ayam yang menyebar diseluruh Indonesia bahkan sampai diluar negeri, baik peternkan pabrik ataupun peternakan individu. Ayam itu sendiri terbagi ke dalam dua jenis yaitu ayam jenis pedaging dan ayam jenis petelur. Ayam jenis pedaging, pastinya dibudidayakan karena untuk dihasilkan daging dalam jumlah yang banyak dengan kualitas yang baik, sedangkan ayam petelur dibudidayakan untuk dihasilkan telur dengan jumlah yang banyak dan kualitas yang baik. Dalam beternak, kita perlu memperhatikan mulai dari pakan, kandang, penyakit serta pengobatannya, sifat genetikanya, asal usulnya, vaksinasi dan sebagainya. Kami melakukan kunjungan atau observasi ke peternak dengan maksut untuk mengetahui situasi dalam membudidayakan ternak khususnya komoditi ayam petelur, yang dipilih oleh peternaknya tersebut. Ayam Petelur tersebut dipilih untuk dijadikan pilihan dalam beternak karena dirasa ayam petelur tersebut mampu untuk menghasilkan telur dalam jumlah yang cukup dengan waktu yang cepat. Sehingga peternak tersebut memilih komoditi ayam petelur untuk diternakan.
Dalam hal kandang yang perlu diperhatikan diantaranya yaitu pendirian kandang yang jauh dari pemukiman, tapi dekat dengan sumber pakan, air, dan pemasaran. Selain itu yang perlu diperhatikan yaitu mengenai struktur atau desain kandang, bahan kandang yang dipakai, memperhatikan sanitasi,  sirkulasi udara, suhu pada kandang, kapasitas yang baik untuk jumlah ternak yang dihuni didalamnya.
Dalam hal penyakit pada ayam petelur juga perlu diperhatikan karena sangat penting juga dalam hal mengawinkan ternaknya, agar anakannya yang dihasilkan nanti dalam kulaitas yang baik. Penyakit pada ayam umumnya sama, yaitu diantaranya penyakit tetelo, pilek atau flu, cacar ayam dan sebagainya.

1.2  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui :
1.      Apa itu  Penyakit cacar atau Fowl pok (FP) ?
2.      Bagaimana cara  pencegahan Penyakit cacar atau Fowl pok (FP) ?
3.      Bagaimana pengobatan penyakit Penyakit cacar atau Fowl pok (FP) ?














BAB II
PEMBAHASAN

1.1  Pengertian Penyakit cacar atau Fowl pok (FP)
Penyakit cacar atau Fowl pok (FP) merupakan penyakit yang menyerang unggas khususnya ayam. Penyakit ini disebabkan oleh virus Epitheliptropic dari genus Avipox, family Poxviridae. Virus ini memiliki sifat tahan dalam kondisi kering dan dapat bertahan hidup berbulan-bulan ditempat yang terkontaminasi.Jika Unggas yang telah terkena virus ini akan menunjukkan gejala lesu, nafsu makan berkurang yang dapat mempengaruhi produktivitasnya. Selain itu suhu tubuh tinggi. Dan Kotoran terlihat encer. Ciri khas paling menonjol bagi unggas yang telah terinfeksi penyakit ini adalah pada bagian fisik unggas tampak seperti ada kutil berwarna putih atau kekuningan. Kutil ini terdapat pada rongga mulut yang dapat mengakibatkan sumbatan pada esophagus. Penyakit ini tidak menyebabkan kematian yang terlalu signifikan seperti penyakit ND ataupun penyakit gumboro.

Pada kasus kematian unggas yang terkena penyakit ini karena virus yang menyerang sistem pernapasan seperti pada hidung yang menyebabkan kesulitan dalam bernapas. Penyebarannya sendiri kebanyakan berasal dari nyamuk.  
1.2  Gejala terjadinya penyakit Penyakit cacar atau Fowl pok (FP).
Gejala fowl pox dapat diamati bentuk difterik (secara basah) dan bentuk kulit atau noduler (secara kering). Bentuk difterik sifatnya basah dengan gejala terlihat bercak difterik yang berwarna kekuning-kuningan pada selaput lendir rongga mulut dan larynx. Dari bercak tersebut akan terbentuk “selaput semu” yang seringkali menyebabkan penyumbatan saluran nafas sehingga ayam mati tercekik. Pada pemeriksaan histologik terhadap jaringan ayam yang sakit akan ditemukan Bollinger bodies (Badan Bollinger) pada kulit dan mukosa saluran pernafasan. Bentuk kulit atau noduler sifatnya kering dengan gejala mula-mula terbentuk lesi fokal berwarna merah jambu pada jengger, pial dan bagian tubuh lain yang tidak berbulu. Fokus ini kemudian bergabung dan membesar sehingga terbentuk keropeng besar berwarna hitam seperti kudis yang akan bertahan sampai dua minggu dan diikuti dengan pengelupasan dan kesembuhan. Bila keropeng dilepas maka akan terjadi perdarahan dari lapisan dibawahnya. Pada pemerikasaan bedah bangkai, cacar bentuk difterik dapat dikenali dengan adanya hiperplasia nodular pada mukosa faring dan trakhea serta adanya penyumbatan oleh eksudat padat di dalam celah suara (glottis) dan mengakibatkan sesak nafas (asphyxia).
Ayam yang terserang penyakit cacar biasanya akan menjadi kurus karena pertumbuhannya terhambat dan tingkat produksinya (telur atau daging) menurun. Suara nafas abnormal akan terdengar terutama apabila ayam tersebut dipelihara dengan ventilasi kurang optimal. Penyakit ini menyerang ayam selama 3-4 minggu. Namun jika terjadi komplikasi, penyakit ini akan menyerang ayam lebih lama. Tingkat kematian (mortality) pada ayam relatif rendah. Namun pada kasus tertentu mortality bisa mencapai 50
%.
1.3  Pencegahan Penyakit cacar atau Fowl pok (FP)
Pencegahan dapat dilakukan melalui vaksinasi, sanitasi yang baik dan hindari kemungkinan yang menyebabkan ayam luka. Terramycin dapat digunakan untuk mengobati luka yang memungkinkan bakteri masuk dengan cara mengoleskannya. Langkah pencegahan yang utama adalah memberikan vaksinasi ada ayam. Pemberian Vaksinai dapat dilakukan dengan penyuntikan Sub cutan/bawah kulit dengan ukuran jarum khusus. Ada dua tipe vaksin virus hidup yang dapat digunakan untuk mencegah penyakit cacar (pox) yaitu vaksin fowl pox dan pigeon pox. Vaksinasi biasanya dilakukan ketika ayam mulai terserang. Namun bisa juga dilakukan pada sembarang umur jika memang diperlukan. Vaksinasi biasanya dilakukan dengan cara wing web menggunakan jarum bermata dua yang sebelumnya dicelupkan ke vaksin fowl pox. Botol vaksin harus dibuka secepatnya sebelum membuka botol vaksin baru. Semua botol bekas vaksin dan jarumnya harus segera dimusnahkan. Cara lain yang dapat dilakukan yaitu dengan membersihkan benjolan-benjolan yang berisi nanah dengan air hangat, selanjutnya diolesi Metylen blue 1% atau Gentian Violet. Pada daerah yang populasinya padat maka risiko penularan penyakit cacar menjadi tinggi. Oleh karenanya vaksinasi dilakukan lebih ketat yaitu 4 minggu dan diulang pada umur 4 bulan. Sedangkan pada daerah dengan populasi relatif sedikit vaksinasi cukup dilakukan sekali yaitu pada umur antara 8 – 12 minggu. Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Fowl Pox terutama bentuk basah. Usaha yang dapat dilakukan adalah menjaga supaya kondisi badan cepat membaik dan meningkatkan nafsu makan dengan memberikan vitamin. sedangkan untuk mencegah infeksi sekunder bisa dilakukan dengan memberikan antibiotik.
1.4  Pengobatan Penyakit Penyakit cacar atau Fowl pok (FP)
Karena disebabkan oleh virus penyakit ini tidak bisa diobati. Pengobatan hanya bisa dilakukan dengan pemberian vaksin cacar terhadap unggas yang sehat. Jika unggas yang telah terkena cacar harus dilakukan tindakan penyayatan kutil-kutil yang tumbuh sampai keluar darah dan diolesi dengan larutan yodium atau neo blue sampai kutil mongering. Pada bagian diptheri harus dilakukan tindakan pengerikan gumpalan dalam rongga mulut sampai lepas. Lalu diolesi lukanya dengan laturan yodium tincture atau yoodygiserin. Pemberian vaksin cacar pada ayam sebenarnya tidak perlu diberikan hanya saja apabila nyamuk dilokasi peternakan cukup tinggi anak ayam dapat diberikan vaksi pada umur 1 hari. 




















BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Fowl pox (cacar) merupakan penyakit pada unggas yang disebabkan oleh virus fowl pox (virus Borrelota aviu). Terdapat dua jenispenyakit ini, yaitu Cutaneous type (dry pox) merupkan cacar yang berbentuk luka keropeng dan Diphtheritic type (wet pox) yaitu cacar yang menyerang daerah permukaan bagian dalam yang basah. Angka kesakitan dan angka kematian pada bentuk kering rendah yaitu sebesar 1-2 %, tetapi pada bentuk basah angka kematian bisa mencapai 5%. Belum ditemukan obat yang dapat menyembuhkan penyakit Fowl Pox terutama bentuk basah. Oleh karena itu, vaksinasi dan sanitasi yang baik diperlukan untuk mencegah penularan penyakit ini.
B.     SARAN
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disarankan kepada peternak unggas agar memperhatikan kebersihan dan sanitasi kandang agar tidak mudah terserang penyakit







DAFTAR PUSTAKA
Agus. 2010. Avian Pox (Cacar Unggas). www.pusat kesehatanhewan.com
(diakses pada
15 september 2014)
Hasan. 2010. Cacar yang Menyerang pada Unggas. www.poultryindonesia.com
(diakses pada
15 september 2014)
Sauvani. 2010. Penyakit dan Pengobatan. www.centralunggasfarm.com
(diakses pada
15 september 2014)
Setiawan, I. 2010. Fowl Pox (Cacar Ayam). www.centralunggasfarm.com
(diaksespada
15 september 2014)



Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)



TUGAS MAKALAH  INDIVIDU
ILMU KESEHATAN TERNAK


Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)


NAMA            : RAHMA NINGSI
NIM                : I 111 12 295
KELAS           : GANJIL





FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014
KATA PENGANTAR
بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ
Puji syukur Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah, karena atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nylah sehingga saya dapat menyelesaikan Makalah Mengenai “Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)sebagai salah satu syarat untuk lulus mata kuliah Ilmu Kesehatan Ternak.
Pada kesempatan kali ini, saya mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah meluangkan waktunya untuk membantu saya dalam menyelesaikan makalah ini. Serta terima kasih kepada teman-teman atas kerja samanya dalam penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa dalam penyusunan Makalah ini, tentu masih terdapat beberapa kesalahan dan masih jauh dari yang diharapkan. Maka dari itu, saya membutuhkan kritik dan saran yang bersifat membangun, agar kedepannya dapat mencapai kesempurnaan.
Akhir kata, semoga Makalah ini dapat digunakan dan dimanfaatkan bagi kita semua. Amin.

                Makassar,        2014

Penulis




BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Usaha perunggasan, khususnya ayam (broiller maupun layer) mempunyai arti ekonomis yang sangat penting dibandingkan dengan jenis usaha peternakan lainnya. Alasan yang pertama, teknik beternak ayam relative lebih mudah sehingga dapat dilakukan oleh banyak orang. Kedua, harga produknya murah dan nilai ­­­­­gizinya tinggi. Ketiga, produk utama dan sampingannya dapat dimanfaatkan (Tabbu, 1996). Perkembangan usaha tersebut cukup pesat, hal ini dapat dilihat dari populasinya yang cukup tinggi. Namun usaha peternakan ayam ini merupakan suatu usaha yang mempunyai resiko tinggi, karena sewaktu-waktu dapat terjadi wabah penyakit menular. Oleh sebab itu, pengelolaannya perlu dilakukan secara efisien dan profesional.
Besar kepala, ungkapan yang sudah tidak asing lagi terdengar dalam kehidupan sehari-hari, ungkapan tersebut menunjuk kepada sifat sulit dinasihati atau cenderung suka melawan. Lebih gawatnya, besar kepala tidak hanya bisa menjadi sifat manusia, tapi juga bisa terjadi pada unggas, baik pada ayam petelur maupun ayam broiler.Penyakit tersebut biasa dibilang sindrom kepala bengkak (swollen head syndrome), atau sindroma kepala besar.
Masih lemahnya praktek manajemen pola pemeliharaan ayam dengan banyak variasi umur dalam satu lokasi peternakan dan upaya pengamanan biologis di tingkat peternak serta lingkungan peternakan yang kurang memadai, seperti sirkulasi udara yang kurang baik, kepadatan ayam cukup tinggi, kandang yang pengap, serta tingginya kadar ammonia dalam kandang dapat menjadi pemicu ayam menjadi “besar kepala” pada umur 2 – 6 minggu. Faktor-faktor tadi harus dihindari oleh peternak, agar ayam terhindar dari penyakit “besar kepala”.Gejala klinis yang biasanya terlihat adalah ayam  mengalami bengkakkepala, bengkak mata, dan bengkak leher.
Swollen Head Syndrome (SHS) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh Avian Pneumovirus. Penyakit ini pada mulanya ditemukan di Afrika Selatan, tetapi sekarang diketahui telah berjangkit di berbagai negara. Akhir-akhir ini kejadian penyakit SHS di Indonesia, baik pada peternakan komersial broiler maupun layer serta pada beberapa breeding farm, mengalami peningkatan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Virus ini dapat menyebabkan penyakit serupa pada kalkun yaitu Turkey Rhino Tracheitis (TRT) yang hanya menyerang kalkun. Dasarnya virus itu sendiri tidak menimbulkan adanya gejala kebengkakan pada daerah kepala dari ayam yang terinfeksi, akan tetapi adanya kebengkakan disebabkan oleh adanya infeksi sekunder dari bakteri lain, seperti : Pasteurella, E.coli, Mycoplasma atau Haemophillus.
1.2  Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui :
a.       Apa itu Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)?
b.      Bagaimana penularan penyakit Sindroma Kepala Bengkak/Swollen HeadSyndrome (SHS)?
c.       Bagaimana cara  pencegahan penyakit Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)?
d.      Bagaimana pengobatan penyakit Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)?











BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Pengertian penyakit Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)
Swollen head syndrome (SDS) adalah suatu penyakit menular yang menyerang alat pernapasan unggas terutama ditemukan pada ayam pedaging (broiler) berumur 4-6 minggu. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi gabungan antara Coronavirus, Escherichia coli dan Pneumovirus serta Staphylococcus. E. coli bertindak sebagai infeksi sekunder. Penyakit ini pada mulanya ditemukan di Afrika Selatan, tetapi sekarang diketahui telah berjangkit di berbagai negara. SHS disebut juga Avian Pneumovirus yang disebabkan oleh Pneumovirus single stranded yang berukuran 80-200 nm RNA virus. Pneumovirus termasuk subfamily Pneumovirinae dan family Paramyxoviridae.








Penyakit dengan gejala kepala membesar dan muka bengkak dikenal dengan nama swollen head syndrome (SHS), disebabkan oleh Pneumo virus (ALEXANDER,1991). Kejadian pertama kali dilaporkan pada peternakan kalkun, dan sekarang kejadiannya sudah mulai dilaporkan pada peternakan ayam, terutama peternakan pembibit (PATTISON et al., 1989; GOUGH et al., 1994). Ayam segala umur dapat terserang penyakit ini, terutama pada minggu-minggu pertama produksi, sehingga produksi telur menurun sampai 30% tanpa memperlihatkan perubahan bentuk dan kualitas telur. Morbiditas dapat mencapai 100%, walaupun angka kematiannya rendah.
2.2  Penyebab Terjadinya Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)
Swollen Head Syndrome, penyebabnya belum jelas dan masih diperdebatkan. Menurut GOODWIN danWALTMAN (1994), SHS disebut juga "oculofacial respiratory disease" karena menyebabkan kelainan Patologia Anatomi (PA) yang dominan pada saluran pernafasan ayam dan juga kelainan pada matanya yang disebabkan oleh infeksi campuran virus, bakteri dan parasite Cryptosporidium baileyi. Penyakit ini menyerang ayam yang berumur 21-35 hari .
Sedangkan TRi AKOSO (1993) menyebutkan bahwa SHS disebabkan oleh infeksi gabungan antara virus corona, E.coli dan Staphylococcus.
Tetapi ada pendapat lain yang menyebutkan bahwa SHS disebabkan oleh
Banyak faktor (multi faktor), yaitu akibat penyakit imuno supresif (1BD, IB, CAV) yang diikuti oleh virus Turkey Rhinotracheitis (TRT) dan diakhiri dengan infeksi E. coli (celulitis) pada jaringan di sekitar mata. Galur E. coli yang biasanya masuk melalui air minum, sebagai penyebab cellulitis facial sub kutan yang karakteristik untuk SHS (SHANE, 1998) . Adanya infeksi sekunder E. coli sering terjadi di lapangan yang dapat menimbulkan kepala ayam membengkak dan matanya tertutup. Kasus semacam ini pernah dijumpai di laboratorium Patologi Balitvet (tahun 2002), 21 ekor ayam broiler (umur 22-32 hari) yang berasal dari peternakan ayam di sekitar Bogor, secara PA dan HP (histopatologi) didiagnosis SHS danumumnya disertai infeksi sekunder E. coli. Hal ini menunjukkan bahwa,
Bakteri tersebut ikut berperan untuk menimbulkan gejala SHS dan memperparah keadaan penyakitnya .
Secara PA dapat diketahui bahwa ciri-ciri ternak yang terserang penyakit ini yaitu terdapat timbunan cairan nanah pada jaringan kulit kepala, celah rongga mulut bagian atas (choane) melebar dan terjadi kerusakan ringan pada sinus hidung(TABBU, 2000) .
Unggas yang terserang penyakit ini menunjukkan gejala bersin diikuti oleh kemerah-merahan dan pembengkakan kelenjar lakrimalis. Kebengkakan juga terjadi pada tepi mata yang melanjut ke kepala dan menurun sampai gelambir bawah dalam waktu 24-36 jam. Unggas yang terserang penyakit ini biasanya menggaruk mukanya dengan kaki. Penyakit ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu 5-10 hari. Virus yang sama dapat menyerang ayam dewasa dan mengakibatkan penurunan produksi telur.
PERUBAHAN PASCAMATI
Unggas yang terserang mengalami perdarahan titik dan bendung pada selaput lendir sekat rongga hidung. Apabila kulit bagian muka dibuka, akan terlihat busung dan bernanah.

DIAGNOSIS
Kepastian diagnosis didasarkan pada gejala klinis dan mengidentifikasi virus Corona dari sekat hidung. Gejala klinis dapat dikacaukan oleh Newcastle disease (ND) dan snot. Untuk pemeriksaan laboratorium sebaiknya dikirimkan ayam sakit yang masih hidup.
2.3  PenularanPenyakitSindromaKepalaBengkak/SwollenHeadSyndrome (SHS)
Penyakit ini mudah menyebar secara cepat dari ayam ke ayam lain dalam satu flok, demikian juga dari satu flok ke flok lain. Menyebar melalui udara dan rute mekanik (makanan, minuman dan peralatan). Penularan secara langsung dapat terjadi melalui kontak antara ayam sakit dengan ayam peka. Penularan secara tidak langsung melalui kontak dengan berbegai bahan di peternakan, alat peternakan ataupun pekerja yang tercemar virus SHS. Penularan melalui udara mungkin juga terjadi jika kandang ayam berdekatan dan udara tercemar oleh debu/kotoran yang mengandung virus SHS. Transmisi lateral pada infeksi berlangsung cepat melalui aerosol yaitu rute pernafasan, sedangkan transmisi vertikal belum banyak diketahui. Pada banyak infeksi, fomit/muntahan merupakan penularan yang penting diantara ayam. Periode inkubasi adalah 5-7 hari, angka morbiditas yaitu 10-100% dan angka mortalitas antara1-10%.
2.4  Pencegahan Penyakit Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)
Pencegahan dilakukan dengan program vaksinasi menggunakan vaksin aktif dan diulang dengan vaksin in aktif. Di samping uji serum netralisasi atau imunofluoresen yang dapat digunakan pada uji serologik, saat ini teknik enzimatik mulai disukai dan berkembang sangat cepat untuk membuat alat bantu diagnostik di segala bidang biologi, karena berbagai pertimbangan praktis (NICHOLAS dan THORNTON, 1986).
2.5  Pengobatan Penyakit Sindroma Kepala Bengkak/Swollen Head Syndrome (SHS)
Pengobatan dapat dilakukan dengan preparat sulfa, nitrofuran atau oksitetrasiklin untuk menurunkan kejadian infeksi.Ayam penderita dapat dipotong dan dagingnya dapat dikonsumsi. Sisa pemotongan harus dimusnahkan dengan cara dibakar atau dibakar. Lesi bagian kepala yang sudah melanjut harus dibuang dan dimusnahkan.














BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Swollen head syndrome (SDS) adalah suatu penyakit menular yang menyerang alat pernapasan unggas terutama ditemukan pada ayam pedaging (broiler) berumur 4-6 minggu. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi gabungan antara Coronavirus, Escherichia coli dan Pneumovirus serta Staphylococcus. E. coli bertindak sebagai infeksi sekunder. Ada juga yang menyebutkan bahwa penyakit ini disebabkan oleh Avian Pneumovirus.
B.     SARAN
Berdasarkan pembahasan diatas maka dapat disarankan kepada peternak unggas agar memperhatikan kebersihan dan sanitasi kandang agar tidak mudah terserang penyakit










DAFTAR PUSTAKA

ALEXANDER, D.J. 1991 .Pneumo virus infections (Turkey rhinotracheitis and swollen head syndrome of chickens) . In: Diseases of Poultry; 9th ed; eds: B.W. Calnek et al. Iowa State Univ . Press, Ames, Iowa, USA. pp .669-673.
GOODWIN and W.D. WALTMAN.1994. Clinical and pathological finding in young Georgia broiler chickens with oculofacial respiratory disease
GOUGH, R.E., R.J. MANwELL., S .E.N . DRURY, and D.B .PEARsoN .1994. Isolation of an avian pneumovirus from broiler chickens. Vet. Rec. 134:353-354.
NICHOLAS R.A .J., and D.H . THORNTON. 1986 . The use of the enzymelinked
immunosorbent assay in detecting antibodies to avian viruses. A review . Vet. Bull. 56 : 337-343 .
 PATnsoN, M., N. CHumLE, C.J. RANDmL, and P.J. WYETH. 1989. Observations on swollen head syndrome in broiler and broiler breeder chickens. Vet. Rec. 125 : 229-231.
SHANE, S.M. 1998. Buku Pedoman Penyakit Unggas. American Soybean Association. Singapore. United Soybean Board.
TABBU, C .R. 1996. Dampak ekonomis dari penyakit unggas. Pros. Temu Ilmiah Hasil-Hasil Penelitian Peternakan . Ciawi-Bogor, 9-Il Januari1996. Puslit bangnak . Badan Litbang Pertanian. him. 49-58 .
TABBU, C .R. 2000. Penyakit Ayam dan Penanggulangannya. Penyakit Bacterial, Mikal dan Viral, Vol. 1 .Penerbit Kanisius, Yogyakarta . 405 him .
TRiAKoso, B. 1993. Manual Kesehatan Unggas. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. him. 102-104.