Kamis, 25 Februari 2016

laporan praktikum teknologi pengolahan limbah



PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
     Pengembangan sektor di Indonesia sekarang ini diarahkan tidak hanya terkait dengan pemenuhan pangan namun juga berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan. Intensifikasi usaha peternakan telah mencapai efisiensi produksi tetapi juga perlu melihat isu lingkungan, yang menjadi perhatian baik di negara maju dan berkembang. Dampak dari sektor ini pada pencemaran lingkungan (amonia, gas rumah kaca dan patogen), mengevaluasi risiko kesehatan terkait dan menilai potensi peranan sistem pengolahan limbah dalam pelemahan isu-isu lingkungan dan kesehatan (Martinez, et all., dalam Kasworo, dkk. 2009).
     Sapi pedaging merupakan salah satu ternak yang secara nasional telah ditetapkan sebagai komoditas unggulan terutama dalam memproduksi daging. Selain itu, keuntungan lain yang diperoleh adalah hasil sampingan dari pemeliharaan sapi berupa kotoran. Sapi pedaging cukup menguntungkan dalam memenuhi kebutuhan daging sebagai sumber protein hewani dan hasil kotoran sapi pedaging yang dapat dimaanfaatkan sebagai pupuk organik berkualitas tinggi. Penggunaan pupuk kimia dalam pertanian modern saat ini mulai dikurangi bahkan sebaiknya dihilangkan dan diganti dengan pupuk organik. Pengurangan dan penghilangan pupuk kimia karena cenderung merusak ekosistem dan menyebabkan rusaknya struktur tanah. Bagi usaha pertanian, tanah mempunyai arti yang penting selain iklim dan air. Keadaaan tanah yang baik dimana tata air, udara dan unsur hara dalam keadaan cukup, seimbang dan tersedia sesuai kebutuhan tanaman. Penggunaaan pupuk merupakan suatu kebutuhan bagi tanaman untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dan menjaga keseimbangan hara yang tersedia selama siklus pertumbuhan tanaman (Permana, 2011).
     Budiayanto (2011), mengemukakan bahwa kotoran sapi merupakan salah satu bahan potensial untuk membuat pupuk organik. Kebutuhan pupuk organik akan meningkat seiring dengan permintaan akan produk organik. Usaha peternakan ke depan harus dapat dibangun secara berkesinambungan sehingga dapat memberikan kontribusi pendapatan yang besar dan berkelanjutan. Penerapan teknologi budidaya ternak yang ramah lingkungan dapat dilakukan melalui pemanfaatan limbah pertanian yang diperkaya nutrisinya serta pemanfaatan kotoran ternak menjadi pupuk organik cair dan biogas dapat meningkatkan produktivitas ternak, peternak dan perbaikan lingkungan. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktikum Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil Ternak mengenai Pembuatan Pupuk Cair Feses Sapi.
B.     Rumusan Masalah
     Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan maka masalah yang dapat dirumuskan yaitu:
1.      Bagaimana proses pembuatan pupuk cair feses sapi?
2.      Bagaimana pengaruh lama penyimpanan terhadap warna pupuk cair?
3.      Bagaimana pengaruh lama penyimpanan terhadap bau pupuk cair?


C.    Tujuan dan Kegunaan
     Tujuan praktikum pembuatan pupuk cair feses sapi adalah untuk mengetahui dan memahami prosedur dalam pembuatan pupuk cair dari feses sapi dengan baik dan benar serta melihat parameter warna dan bau selama masa penyimpanan.
     Kegunaan dari praktikum pembuatan pupuk cair yaitu agar dapat mengetahui proses pembuatan pupuk cair yang baik, serta mengetahui manfaat penggunaan pupuk organik cair.


METODELOGI PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
     Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil ternak mengenai Pembuatan Pupuk Organik Cair dilaksanakan pada hari jumat, 8 mei 2015 pukul 08.00 WITA sampai hari minggu, 17 Mei 2015 yang bertempat di Laboratorium Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil Ternak, Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.
B.     Materi Praktikum
     Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil Ternak mengenai pembuatan pupuk cair feses sapi menggunakan alat-alat yaitu toples besar, ember, saringan, kayu (sebagai pengaduk) timbangan, sendok, gelas ukur.
     Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil Ternak mengenai pembuatan pupuk cair feses sapi menggunakan bahan-bahan yaitu 4 kg feses sapi dengan kadar air 70%, 1 kg daun gamal, 250 gr gula pasir, 10 liter air.
C.    Metode Praktikum
Bahan I
     Mula-mula memisahkan daun gamal dengan tangkainya sebanyak 1 kg, menambahkan air sebanyak 2 liter, meremas-remas daun gamal hingga air berubah warna menjadi hijau, setelah itu menyaring ekstrak daun gamal.
Bahan II
     Mula-mula menimbang feses sebanyak 4 kg, kemudian menambahkan air hingga 8 liter, mengaduk-aduk hingga campuran feses dan air homogen, menyaring hingga beberapa kali hingga tidak ada lagi gumpalan feses.
     Bahan  I (ekstrak daun gamal) dan bahan II (feses sapi) disatukan pada pada ember, menambahkan gula sebanyak 250 gr, mengaduk-aduk hingga campuran homogen, menyaring kembali, memindahkan kedalam toples yang berukuran besar dan menutupnya rapat-rapat dalam keadaan anaerob. Menyimpannya hingga 9 hari. Pengamatan dilakukan pada hari ke 3, ke 6 dan ke 9.
D.    Uji Organoleptik
     Uji organoleptik merupakan teknik pengujian dengan menggunakan indera manusia sebagai alat utama untuk pengukuran daya penerimaan terhadap produk. Pengujian organoleptik mempunyai peranan penting dalam penerapan mutu. Pengujian organoleptik dapat memberikan indikasi kebusukan, kemunduran mutu dan kerusakan lainnya dari produk. Pengamatan organoleptik dilakukan di hari ke-0, 3, 6, 9 dan pada hari ke-0 dilakukan oleh 5 orang penelis, pada hari ke-3 dilakukan oleh 3 orang penelis, pada hari ke-6 dilakukan 4 orang penelis dan pada hari ke-9 dilakukan oleh 6 orang penelis.
a.       Bau
 

   
        
         1            2            3          4             5             6           Keterangan:
1.      Feses
2.      Agak Feses
3.      Sedikit Feses
4.      Agak Tape
5.      Sedikit Tape
6.      Tape
b.      Warna


    

         1            2            3          4             5              6              Keterangan:
1.      Coklat
2.      Agak Coklat
3.      Sedikit Coklat
4.      Agak Hijau
5.      Sedikit Hijau
6.      Hijau

E.     Diagram Alir Praktikum
PEMBUATAN PUPUK CAIR
1kg Daun Gamal
4 Kg Feses Sapi (Kadar Air 70 %)
Tambahkan Air 2 liter
Tambahkan Air 8 liter
Ekstrak Daun Gamal
Meremas-remes
Homogenkan
Saring Beberapa Kali
Larutan Feses
Campurkan Ekstrak Gamal + Larutan Feses
Tambahkan Gula 250 gr
Homogenkan
Saring
Simpan Dalam Toples Besar
Disaring
 


































               Gambar 1. Diagram Alir Praktikum Pupuk Cair Feses Sapi
HASIL DAN PEMBAHASAN
     Berdasarkan hasil praktikum Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa Hasil Ternak mengenai pembuatan pupuk cair dengan memanfaatkan feses sapi, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Hasil Pengamatan Pupuk Cair Feses Sapi
Hari ke-
Parameter
Bau
Warna
0
2
5
3
4
3
6
4
4
9
5
3
     Sumber : Data Hasil Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah dan Sisa  Hasil Ternak, 2015.

     Berdasarkan data pada tabel 1, diperoleh hasil bahwa pengamatan hari ke-0 pupuk cair agak berbau feses dan berwarna sedikit Hijau. Hal ini dikarenakan adanya indikator penambahan ekstrak daun gamal. Penambahan ekstrak daun gamal disini berfungsi sebagai sumber unsur hara terutama kandungan Nitrogen. Hal ini sesuai dengan pendapat Haryanto (2000), bahwa kandungan unsur hara pada ekstrak daun gamal tinggi terutama kandungan nitrogen sebanya 3,48%. Pupuk cair feses sapi pada hari ke-0 belum dianggap berhasil dan matang karena ciri fisiknya belum memberikan perubahan yang signifikan dimana berubah warna menjadi kecoklatan sampai hitam. Menurut standar kualitas pupuk organik cair SNI 19-7030-2004 dalam Kiswanto H, dkk (2014) warna pupuk cair yang sudah matang adalah berwarna kecoklatan sampai hitam. Perubahan warna pupuk terjadi karena denaturasi protein pelindung dalam kloroplas mengakibatkan ion magnesium mudah terlepas dan diganti oleh ion hidrogen.
     Berdasarkan data pada tabel 1, diperoleh hasil bahwa pengamatan pada hari ke- 3 pupuk cair agak berbau tape dan berwarna sedikit coklat. Perubahan  bau pada pembuatan pupuk cair disebabkan karena bahan anorganik belum terdegradasi sempurna, sedangkan perubahan warna terjadi akibat pelepasan magnesium dari klorofil. Hal ini sesuai dengan pendapat Sofyan, dkk (2007),  dalam Kiswanto H, dkk (2014) yang menyatakan bahwa bau yang ada dalam pupuk cair bersumber dari bahan anorganik yang belum terdegradasi menjadi bahan-bahan organik. Kemudian dilanjutkan oleh Kiswanto dan Retno (2014), yang menyatakan perubahan warna pupuk terjadi karena denaturasi protein pelindung dalam kloroplas mengakibatkan ion magnesium mudah terlepas dan diganti oleh ion hidrogen. Ion magnesium dari klorofil akan semakin banyak terlepas karena proses pemanasan dan pengaruh keasaman.
     Berdasarkan data pada tabel 1, diketahui bahwa pada pengamatan hari ke-6 pupuk cair masih berbau agak tape seperti pada hari ke-3 dan berwarna agak hijau. Perubahan warna ini terjadi akibat bahan organik, seperti pati yang terlarut, jasad renik dan koloid lainnya yang tidak dapat mengendap dengan cepat. Hal ini didukung oleh Tjokroadikoesoemo (1986), yang menyatakan bahwa limbah cair yang sudah busuk berwarna gelap. Kekeruhan yang terjadi pada limbah disebabkan oleh adanya bahan organik, seperti pati yang terlarut, jasad renik dan
koloid lainnya yang tidak dapat mengendap dengan cepat.
     Berdasarkan data pada tabel 1, diketahui bahwa pada pengamatan hari ke-9 pupuk cair masih berbau sedikit tape dan berwarna sedikit coklat. Hal ini menandakan bahwa semakin lama penyimpanan maka bau menyengat tape akan semakin berkurang hal ini disebakan proses aerasi yang dapat mengurai bau pada pupuk cair. Hal ini sesuai dengan pendapat Sudarwanti (2010) bahwa bau juga menunjukkan kualitas pupuk cair, terutama dari segi kematangan pupuk. Proses aerasi dapat mengurangi bau yang yang terjadi pada pupuk cair, namun masih terdapat bau menyengat pada produk akhir pupuk cair hasil pengkayaan. Hal ini menunjukkan lama proses aerasi yang belum optimal sehingga masih menimbulkan bau menyengat pada pupuk.
     Daun gamal yang akan digunakan pada pembuatan pupuk cair dihancurkan terlebih dahulu, ini dilakukan agar kandungan kalium pada daun gamal tidak hilang, karena sel-sel daun dengan vakuola maupun klorofil yang utuh menimbun banyak K sehingga dapt mempertinggi kadar kalium pada pupuk cair (Pancapalaga, 2011). Dilannjutkan oleh Jusuf (2006) dalam Pancapalaga W (2011), bahwa biomassa tanaman gamal (Gliricidia sepium) mudah mengalami dekomposisi, serta mempunyai bahan organic yang tinggi dan mudah melapuk, sehingga memenuhi syarat untuk keperluan pemupukan.
     Gula digunakan sebagai sumber karbon yang berperan penting dalam pertumbuhan mikroba, selain itu Gula pasir pada pembuatan pupuk cair berfungsi sebagai sumber makanan bagi mikroorganisme, air berfungsi sebagai katalisator proses-proses  biologis dalam proses fermentasi  (Huda, 2009).
     Pemeraman dilakukan agar udara  tidak  dapat  masuk. Hal ini dilakukan untuk menekan kehilangan nitrogen dalam bentuk gas amoniak yang menguap. Dengan menyimpannya terlebih dahulu sebelum digunakan akan meningkatkan kandungan fosfat dan membuat kandungan hara menjadi seimbang. Penggunaan pupuk kandang cair juga akan meningkatkan efisiensi penggunaan fosfat oleh tanaman (Hadisuwito, 2012).













PENUTUP
A.    Kesimpulan
     Berdasarkan praktikum teknologi pengolahan limbah dan sisa hasil ternak mengenai pembuatan pupuk cair dapat diketahui bahwa pupuk cair yang dihasilkan belum bisa dikategorikan berhasil karena pembuatan pupuk cair ini belum matang sempurna dimana warna pupuk cair yang sudah matang adalah berwarna kecoklatan sampai hitam.
B.     Saran
     Sebaiknya pada untuk mendapatkan hasil maksimal proses fermentasi dan pengamatan dilakukan lebih lama sehingga dapat menghasilkan kualitas pupuk cair yang bagus dan maksimal.












DAFTAR PUSTAKA
Budiayanto, Krisno. 2011. Tipologi Pendayagunaan Kotoran Sapi dalam Upaya Mendukung Pertanian Organik di Desa Sumbersari Kecamatan Poncokusumo Kabupaten Malang. Jurnal GAMMA 7 (1) 42-49.

Hadisuwito,  Sukamto.  2012. Membuat  Pupuk  Organik  Cair.  Pustaka AgroMedia. Jakarta.

Haryanto, T. Suhartini dan E. Rahayu, 2002. Tanaman Sawi dan Selada. Penebar Swadaya. Depok.

Huda, N.E. 2009. Pengaruh Penambahan Variasi Masa pati pada Pembuatan Nata De Coco dalam Medium Fermentasi Bakteri Acetobacter xylium. Skripsi. Fakultas MIPA. Universitas Sumatra Utara. Medan.

Jusuf, Lahadasy, 2006. Potensi Daun Gamal Sebagai Bahan Pupuk Organik Cair. Jurnal Agrisistem Vol.2. No 1.

Kiswanto, H dan Retno, E M. Kandungan Nitrogen Total, Kalium dan Warna Pupuk Organik Cair Hasil Pengomposan Ikan Rucah dengan Starter Terasi Udang dalam Berbagai Dosis. Jurnal Pendidikan Biologi. Universitas PGRI. Semarang. ISBN 978-602-0960-00-5.

Martinez dan Jose, Patrick Dabert, Suzelle Barirngton, dan Colin Burton. 2009. dalam Kasworo, A., Izzati M,. Kismartini. 2013. Daur Ulang Kotoran Ternak Sebagai Upaya Mendukung Peternakan sapi Potong yang Berkelanjutan di Desa Jogonaya kecamatan Ngablak kabupaten magelang. Jurnal Lingkungan. ISBN 978-602-I7001-1-2.

Pancapalaga, W. 2011. Pengaruh Rasio Penggunaan Limbah Ternak dan Hijauan Terhadap Kualitas Pupuk Cair. Jurnal Pertanian-Peternakan.Vol 7 : September 2011 : 61-68.

Permana, D. 2011. Kualitas Pupuk Organik Cair dari Kotoran Sapi Pedaging yang Difermentasi Menggunakan Mikroorganisme Lokal. Skripsi. Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan. Institut Teknologi Bandung.

Sofyan, E. Ellyta Sari, Riko Rinaldo. 2007. dalam Kiswanto H dan Retno E, M. Kandungan Nitrogen Total, Kalium Dan Warna Pupuk Organik Cair Hasil Pengomposan Ikan Rucah Dengan Starter Terasi Udang Dalam Berbagai Dosis. Jurnal Sciences. Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang.

Standar Nasional Indonesia. 2004 dalam Kiswanto H dan Retno E, M. Kandungan Nitrogen Total, Kalium Dan Warna Pupuk Organik Cair Hasil Pengomposan Ikan Rucah Dengan Starter Terasi Udang Dalam Berbagai Dosis. Jurnal Sciences. Pendidikan Biologi Universitas PGRI Semarang.

Sudarwanti, R. 2010. Kualitas Pupuk Cair Hasil Sampingan Monosodium Glutamat dengan penambahan Feses Sapi Perah dan Sumber Hara Berbeda yang Diperkaya Mikroba Tanah. Skripsi Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Tjokroadikoesoemo, P. S. 1986. HFS dan Industri Ubi Kayu Lainnya. PT Gramedia. Jakarta.












Lampiran I. Perhitungan Hasil Uji Organoleptik pada Pembuatan Pupuk Cair Feses Sapi


Warna
·         Hari Ke-0
·         Hari Ke-3
·         Hari Ke-6
·         Hari Ke-9
              3
Bau
·         Warna Hari Ke-0
·         Hari Ke-3
·         Hari Ke-6
·         Hari Ke-9




Lampiran 2. Dokumentasi Pembuatan pupuk Cair Feses Sapi
  







Lampiran 3. Lembar Uji organoleptik Pupuk Cair Feses Sapi
























































































































































































































































































































































































































































































Tidak ada komentar: