Kamis, 25 Februari 2016



TUGAS INDIVIDU
TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH DAN SISA HASIL TERNAK

Dosen : Dr. Hikmah M. Ali, S.Pt, M.Si


Model Zero Waste (Pengolahan Dan Pemanfaatan Limbah Sayuran Sebagai Pakan Ternak, Pupuk Cair dan Kompos)


OLEH :

RAHMA NINGSI
I 111 12 295



KELAS A (GANJIL)












PROGRAM STUDI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

MODEL ZERO WASTE

 



 Buah dan sayuran  sebagai
 sumber gizi bagi makhluk hidup                                     Buah dan Sayuran menjadi limbah karena tidak dapat dikomsumsi lagi                                     




   Limbah Sayuran diolah menjadi
wafer pakan sebagai pakan untuk
         ternak ruminansia                                                         Limbah sayuran dimanfaatkan
                                                                                                 dalam Pembuatan pupuk cair
         


                                                     

Sapi mengkomsumsi wafer
                   pakan
Memanfaatkan pupuk cair untuk menanam tanaman, sapi mengomsumsi tanaman dalam tentuk hijauan kering

    
 

 Hasil buangan akhir dari ternak
sapi berupa feses dapat dimanfaatkan
                              Kompos berfungsi untuk
     menyuburkan tanaman         
Pemanfaatan tepung limbah sayuran sebagai bahan pakan dalam ransum harus bebas dari efek antinutrisi, terlebih toksik yang dapat menghambat pertumbuhan ternak yang bersangkutan. Limbah sayuran mengandung anti nutrisi berupa alkaloid dan rentan oleh pembusukan sehingga perlu dilakukan pengolahan ke dalam bentuk lain agar dapat dimanfaatkan secara optimal dalam susunan ransum ternak ruminansia. Dapat dilihat pada bagan metode zero waste dimana buah – buahan dan sayuran yang sudah tidak dapat dikomsumsi lagi oleh manusia akan menjadi limbah yang dapat mencemari lingkungan.
Cara-cara pengawetan limbah sayuran yang paling sederhana adalah dengan pengeringan. Pemasakan yang dalam pengolahan dikenal dengan istilah “blansing”, juga merupakan langkah pengawetan. Pemasakan merupakan salah satu proses pengolahan panas yang sederhana dan mudah, dapat dilakukan dengan media air panas yang disebut dengan perebusan maupun dengan uap panas atau yang disebut pengukusan. Perbedaan keduanya hanyalah media yang dimanfaatkan yaitu melalui air dan uap panas dengan suhu + 100 C.
Pada metode zero waste diatas, limbah sayuran dimanfaatkan untuk pembuatan wafer pakan, dimana penggunaan wafer limbah sayuran pasar sebagai hijaun dalam ransum memberikan pengaruh baik terhadap performa ternak ruminansia contohnya kambing. Pemberian 50% wafer + 50% konsentrat menunjukkan nilai konsumsi bahan kering sebesar 1078.70 gr/ekor/hari dan nilai pertambahan bobot badan harian kambing  sebesar 129.76 gram/hari/hari serta nilai konversi pakan yang paling rendah sebesar 2.27±0,38.
Selain wafer pakan, pada metode zero waste limbah sayuran dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk cair alami dimana dalam proses pembuatannya memakan waktu enam bulan hingga setahun (tergantung bahan yang digunakan). Oleh karena itulah saat ini telah banyak dikembangkan produk bioaktifator / agen delkomposer yang diproduksi secara komersial untuk meningkatkan kecepatan dekomposisi, meningkatkan penguraian materi organik,dan dapat meningkatkan kualitas produk akhir. Salah satu bioaktifator yang digunakan adalah EM4 (Effective Microorganisme 4). Larutan EM4 ini berisi mikroorganisme fermentasi. Jumlah mikroorganisme fermentasi didalam EM4 sangat banyak, sekitar 80 genus. Agen decomposer komersial lainya adalah Biosca yang berisi mikroba yang berperan dalam penguraian atau dekomposisi limbah organik hingga dapat menjadi pupuk. Sehingaa penambahan EM4 pada pembuatan pupuk cair  dapat mempercepat proses fermentasi, sehingga proses pembentukan pupuk lebih cepat. Wafer pakan tersebut kemudian dapat diberikan pada ternak ruminansia seperti sapi yang pada hasil buangan akhirnya menghasilkan feses yang nantinya feses ini dapat dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk kompos yang dapat menyuburkan tanaman seperti tanaman palawija yang mana dapat dimanfaatkan sebagai pakan hijauan segar dimana sapid an tanaman palawija ini berhubungan atau saling keterkaitan satu sama lain.
Pada hasil buangan akhir ternak berupa feses yang dimanfaatkan dalam pembuatan pupuk kompos merupakan dekomposisi bahan – bahan organik atau proses perombakan senyawa yang komplek menjadi senyawa yang sederhana dengan bantuan mikroorganisme. Bahan dasar pembuatan kompos ini adalah kotoran sapi dan bahan seperti serbuk gergaji atau sekam, jerami padi dll, yang didekomposisi dengan bahan pemacu mikroorganisme dalam tanah (misalnya stardec atau bahan sejenis) ditambah dengan bahan-bahan untuk memperkaya kandungan kompos, selain ditambah serbuk gergaji, atau sekam, jerami padi dapat juga ditambahkan abu dan kalsit/kapur. Kotoran sapi dipilih karena selain tersedia banyak di petani/peternak juga memiliki kandungan nitrogen dan potassium, di samping itu kotoran sapi merupakan kotoran ternak yang baik untuk kompos.
Prinsip yang digunakan dalam pembuatan kompos adalah proses pengubahan limbah organik menjadi pupuk organik melalui aktivitas biologis pada kondisi yang terkontrol. Bahan yang diperlukan adalah kotoran sapi : 80 – 83%, serbuk gergaji (bisa sekam, jerami padi dll) : 5%, bahan pemacu mikroorganisame : 0.25%, abu sekam : 10% dan kalsit/kapur : 2%, dan juga boleh menggunakan bahan-bahan yang lain asalkan kotoran sapi minimal 40%, serta kotoran ayam 25 %.
Tempat pembuatan adalah sebidang tempat beralas tanah dan dibagi menjadi 4 bagian (lokasi 1, 2, 3, 4) sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan dan tempat tersebut ternaungi agar pupuk tidak terkena sinar matahari dan air hujan secara langsung. Prosesing pembuatannya adalah pertama kotoran sapi (fases dan urine) diambil dari kandang dan ditiriskan selama satu minggu untuk mendapatkan kadar air mencapai ± 60 %, kemudian kotoran sapi yang sudah ditiriskan tersebut dipindahkan ke lokasi 1 tempat pembuatan kompos dan diberi serbuk gergaji atau bahan yang sejenis seperti sekam, jerami padi dll, serta abu, kalsit/kapur dan stardec sesuai dosis, selanjutnya seluruh bahan campuran diaduk secara merata. Setelah satu minggu di lokasi 1, tumpukan dipindahkan ke lokasi 2 dengan cara diaduk/dibalik secara merata untuk menambah suplai oksigen dan meningkatkan homogenitas bahan. Pada tahap ini diharapkan terjadi peningkatan suhu hingga mencapai 700 C.


Tidak ada komentar: